27 Oktober 2015

Perkara Rindu

Mari membuka laman ini dengan sedikit bergemeretak,
Tidak, kita tidak sedang kedinginan karena berada dalam ruangan berpendingin udara.
Tidak, kita tidak pula sedang meringkuk ketakutan karena ada hentakan kerasa dari inti bumi.

Kita bergemeretak, karena kita hanya sedang merindu.


Rindu...
Kata sakti bagi para pelaku hubungan jarak jauh,
Juga kata ampuh bagi para penyendiri yang sulit menyapa keberadaan seseorang,
Mungkin juga kata larangan bagi mereka yang berusaha membuka lembaran baru di esok hari.
Entah bagaimanapun maknanya, rindu tidak pernah sederhana.

Iya, rindu itu tidak sederhana jikalau tidak diungkapkan.
Menjadi sederhana saat rindu menemui targetnya, entah terungkap atau tidak itu urusan lain.
Yang jelas, merindu perkara yang susah nan gampang, tergantung dengan siapa merindu itu dituju.

Bagaimana jikalau rindu itu dilarang ? Apa baik melarang rindu ?
Bagaimana jikalau rindu itu dipendam ? Apa baik memendam rindu ?
Bagaimana jikalau rindu itu sesaat ? Apa baik merindu hanya sesaat ?
Bagaimana jikalau rindu itu berkepanjangan ? Apakah baik rindu yang terus-menerus ?

Aku tidak akan merindukanmu tanpa sebab-alasan.
Aku tidak akan merindukanmu dengan percuma.
Aku tidak akan merindukanmu dengan sepenuh jiwa raga.

Karena aku tahu, rindu itu berat, seperti kata Ayah Pidibaiq.
Biar aku saja yang merindu, kamu jangan.
Tapi jikalau kamu merindu, izinkan aku mengetahuinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar