5 September 2014

Maaf, Ma...

Saya akan membuka tulisan dengan satu kata yang selalu ingin saya katakan pada banyak orang spesial dalam hidup saya.

"Maaf..."

Saya ingin minta maaf untuk semua orang spesial yang berarti bagi perjalanan hidup saya hingga sejauh ini. Tampaknya terlihat mudah dan sepele untuk mengucapkan hal tersebut langsung pada mereka yang dituju. Namun, menjadi perkara yang sangat besar saat semua berasal dari hati, yang mana kadang mulut sulit untuk melafalkannya langsung di depan mereka.

Maaf, saya sudah mengecewakan semua orang yang rela mendukung saya di masa sulit saya namun saya terlihat menyepelekan atau mengacuhkannya. Saya hanya mencoba mengesampingkan dukungan itu sebagai bentuk pemacu semangat saya kala jatuh, namun itu belum bisa membuat saya berlari seperti saat sebelum saya terjatuh.

Maaf terbesar saya bagi sosok yang selalu ada dalam doa saya meskipun saya tidak pernah bisa mengucapkan langsung kepadanya bagaimana saya menyayanginya sepenuh hati saya. Sosok yang begitu tegar dengan segala cobaan yang hampir tidak pernah berhenti menimpanya. Mungkin tidak sehebat cerita-cerita yang ada di film, novel, ataupun karya sastra para pujangga lain, tapi bagi saya sosok itu selalu dan tidak akan pernah terhapus dalam hati dan benak saya. Bukan sosok yang mengesankan bagi kebanyakan orang, tapi setidaknya dia begitu berharga dan berandil sangat sangat luar biasa besar bagi jalan hidup saya. Betapa berdosanya saat saya menyadari saya pernah menjadi penyebab bagimana air matanya jatuh dari matanya yang bertatapan tajam lalu membasahi pipi gembilnya yang mulai mengerut di makan usia. Ah, saya berkaca-kaca menulis barisan kalimat ini...

Saya tidak ada di sampingnya saat sosok itu sangat butuh seseorang disampingnya, sekedar untuk melepaskan sedikit bebannya lewat bercerita. Menyapa lewat hubungan seluler hanya menimbulkan perasaan bersalah yang makin mendalam kala semua obrolan dibatasi oleh 'kuota bicara' yang terbatas. Tapi untuk bertemu dengan sosok itu saat inipun bukan hal yang mudah, terlalu banyak hal bodoh yang sudah dilakukan akibat ego beranjak dewasa yang menumpuk dan tidak coba untuk dihilangkan. Bertemu dengan sosok itu hari ini hanya akan membuat saya malu dan sadar jikalau saya masih belum memberikan apa-apa untuk seluruh pengorbanan di semua detik umur saya bernafas hingga saat ini. Mata saya seketika memburam dan berkedip tanpa saya sadari...

Mama, tidak ada kata yang pantas diucapkan oleh saya selain "Maaf, Ma.."
Maaf saya lemah karena tidak bisa mengucapkan ini secara langsung di depanmu sekalian memeluk tubuhmu yang mulai merenta.
Maaf untuk semua ego saya yang sering engkau acuhkan sebagai bebanmu tapi malah dianggap sebagai kewajibanmu sebagai orang tua saya.
Maaf saya belum berjuang sekeras apa yang telah kau lakukan untuk mendermakan hampir seluruh yang kau miliki untuk saya.
Maaf karena saya belum bisa membawamu ke kota ini lagi dan melihat senyumanmu saat melihatku mengenakan baju toga kebesaran mereka yang telah berjuang mengalahkan egonya untuk menaklukkan belantara tugas akhir.

Seketika tangan saya refleks menghapus air mata yang mulai menjalar pipi.




Untuk mama,

Maafin aku, Ma.. :'(

1 Juli 2014

Mereka yang Ada Di Belakangmu

Mereka yang selalu ada di belakangmu adalah mereka yang tulus mendo'akanmu semua yang terbaik kala kau tertidur pulas menjemput mimpi. Tidak akan terdengar namun ketulusannya nyata di hadapanmu tanpa kau sadari..

Mereka sanggup meneteskan semua peluhnya dan habiskan semua waktunya demi senyummu di kala bahagia. Tak banyak pintanya, mereka hanya ingin pelukan hangat darimu untuk membalas semua peluh mereka.

Mereka ikhlas berjuang mengejar matahari pagi dan ditemani bulan malam untuk memastikan supaya kau tidak kekurangan di esok hari. Tak banyak pintanya, mereka hanya ingin kau mencium tangan mereka kala kau pergi ke lain tempat.

Mereka rela menanggalkan selimutnya atau mengibaskan tangannya memberikanmu sedikit kesejukan hanya agar tidurmu tak terganggu dingin atau sumuknya udara. Tak banyak pintanya,

10 Juni 2014

Pada Akhirnya...

Pada akhirnya, kita hanya bisa menemui bayangan diri kita saja dari lontaran cermin yang terkena terang cahaya, tidak ada siapa-siapa, meskipun tampak ramai. Mungkin karena suasana gundah yang mulai menyesaki sedikit ruang yang tersisa di dalam hati..

Pada akhirnya, semua akan berakhir pada penyesalan yang dimulai dengan segala macam hal sepele yang cenderung mengacuhkan, begitulah cara kerja munculnya penyesalan. Kau menyia-nyiakan lalu sepi melanda dan saat itu terjadi kau menyesal mengapa bisa menyia-nyiakan hal yang pernah ada..

Pada akhirnya, kita akan menemui semua ujung rindu kita pada kenangan yang selintas ada dalam benak hanya untuk mengusik semua hal tersia-siakan lalu disesali kemudian. Jangan salahkan rindunya, salahkan cara munculnya yang mengungkit masa lalu yang lupa untuk disyukuri..

Pada akhirnya, kita memilih untuk menyerah pada keadaan, tidak tahu harus bagaimana menjadi alasan terkuat. Ingin melangkah namun tidak mempunyai pijakan yang kuat, alhasil takut melangkah dan mulai berpikir untuk diam berdiri di posisi saat ini atau putar balik ke arah sebelumnya..

9 Juni 2014

Masih

Aku masih senang memperhatikanmu dari jauh, meskipun kau tidak pernah mengindahkanku. Masih hingga saat ini...

Aku masih senang melihat senyum manismu, meskipun senyummu mungkin untuk orang lain itu. Masih hingga saat ini...

Aku masih senang mengobrol denganmu, meski mungkin kau lebih senang menghabiskan waktu mengobrol dengannya. Masih hingga saat ini...
 
Aku masih senang menunggu kiriman pesan singkat darimu, meskipun kau sudah memiliki teman berkirim pesan singkat yang lain. Masih hingga saat ini..

Aku masih mengingat caramu tertawa, meskipun kau sekarang sudah memiliki teman tertawa yang lain. Masih hingga saat ini...

18 Maret 2014

Selasa, Minggu Ketiga

Selasa, minggu ketiga.. Selalu menjadi hari yang dinanti..

Mengawali dengan beratnya menentukan topik penelitian, belum mengerti apa yang akan diteliti, materi yang sulit, atau mungkin semangat yang belum hadir..
Beranjak ke fase dimana mulai menentukan pembimbing dan melakukan bimbingan untuk konsultasi proposal, kadang lancar tapi banyak juga yang terhambat. Entah pembimbing yang perfeksionis, pembimbing sibuk, atau malah malas yang melanda..
Mendapati proposal ACC dan dilanjutkan ke fase seminar, fase selangkah dimana lebih unggul dari mereka yang belum menemukan ide, banyak telaah yang baik kadang ada juga yang tanpa telaah berarti, yang jelas PPT sudah dibuat semaksimal mungkin demi nilai yang maksimal diharapkan..

Selasa, minggu ketiga.. Selalu menjadi momen yang melegakan..

Penelitian.. beragam cara memulai dan mengakhirinya. Selalu ada masa dimana kita merasa lancar namun tak jarang kita tertahan sementara.. Data, ulangan, perlakuan, error, analisis, tak luput dari perhatian. Menyelesaikannya berarti setengah jalan menuju akhir. Tinggal menyusunnya.. Awalnya bingung, namun contoh terdahulu bisa dijadikan acuan untuk memulai. Draf pertama selesai, pengorbanan begadang karena analisis data, buat pembahasan, atau cari referensi pendukung mulai terbayar..
Saat pembimibing apresiasi dengan membubuhkan ACC seminar, langkah semakin ringan.. Semua berkas dilahap untuk diselesaikan sebelum memulai seminar hasil.

Selasa, minggu ketiga.. Selalu menjadi saat dimana perjuangan merasa terbayar tuntas..

Dagdigdug di awal, ada yang memberanikan melihat teman seperjuangan ada yang memilih menepi di luar menanti giliran eksekusi.. Berjalan bolak-balik menanti kehadiran tim dosen. Sumringah saat semua hadir tepat pada waktunya namun cemas dengan penonton yang kurang kuota, tarik orang sana-sini dan akhirnya seminar berjalan..
Kadang ada yang mengalami perubahan jadwal, tapi tetap semua dipersiapkan sebaik mungkin, nyaris tanpa cela..

3 Maret 2014

Pernah

Kita pernah saling bertukar kegemaran bersyair meski hanya lewat pesan singkat, itu menyenangkan, masihkah kau mengingatnya ?

Kita pernah menghabiskan banyak waktu kita hanya untuk mengobrol lewat pesan singkat, itu menyenangkan, masihkah ku mengingatnya ?

Kita pernah bercerita hal-hal yang kita suka atau yang tidak kita suka meski hanya lewat pesan singkat, itu menyenangkan, masihkah kau mengingatnya ?

Kita pernah mendekatkan kedua telinga kita hanya untuk saling menyapa kabar padahal kita tidak pernah dalam satu ruang, itu menyenangkan, masihkah kau mengingatnya ?

Kita pernah membuang waktu menerobos hujan hanya untuk melepas rindu kala lama kita tak jumpa, itu menyenangkan, masihkah kau mengingatnya ?

Kita pernah saling bertukar senyum dari kejauhan meski saat itu kau sudah menggandeng tangan orang lain, tidak begitu menyenangkan tapi tetap ku ingat, masihkah kau mengingatnya ?

24 Februari 2014

Review : SUC 1 Feb/#PrideOfBekasi Finale

Malam itu kebetulan Sabtu malam (berhubung single jadi ga kenal istilah malem minggu), dan kebetulan juga awal bulan (1 Februari), ada salah satu event StandUp Comedy Show Special yang sayang banget buat dilewatin. Ya, bener banget, #PrideOfBekasi Finale Show, rangkaian terakhir dari tur yang diisi oleh para punggawa keren dari Kota Patriot Bekasi, ada bang Adjisdoaibu, bang Awwe, bang BintangBete, dan bang AryaNovrianus. Mereka menamai diri mereka dalam tajuk #PrideOfBekasi. Ga berlebihan apalagi pas tahu ending dari Special Show Finale mereka, di kandang sendiri, Bekasi...

Berlokasi di jantung pemerintahan Kota Bekasi (cieilaaah), di kompleks kator walikota tepatnya Gedung Balai Patriot Bekasi, show ini berlangsung dengan khidmat dan penuh tawa (ga nyambung..hahaa). Gue masuk sekitar jam setengah 8an, dan berhubung punya tiket VIP jadinya woles karena tempat terjamin enak (kursinya, pameeer) dan ditunjukkin sama kaka-kaka komunitas @StandUpIndo_Bks yang kece badai dan menunjukkan tempat yang pas dan punya view yang cukup enak buat liat perform para pahlawan SUC (Stand Up Comedy) Bekasi.


Rada bori sebelum mulai, karena ga ada hiburan live-nya (mulai songong nih gue) sampai akhirnya ada suara Narator misterius yang ngebanyol dan memulai untuk terlaksananya acara Maha Agung ini (cieeee), oiya sampai sekarang gue masih nebak-nebak kalo Narator itu suaranya