30 April 2013

#KampungGue

Apa yang terlintas di benak kalian waktu denger kata "kampung" ?

Udik ? 
Gak ada tv ? 
Gak ada sinyal provider ? 
Gak ada mall ? 
Jalan masih tanah dan belum aspal ? 
Rumah bertembokkan anyaman bambu ?
Ya, harus saya akui, sedikit banyak saya juga berpikiran seperti itu..

Saya memiliki kampung halaman layaknya kebanyakan anak para perantau dari bagian jawa yang agak ke timur (jawa tengah, jogja, atau jawa timur), meskipun domisili berada di kota besar. Kampung halaman saya terletak di Kabupaten Sukoharjo, Kecamatan Bendosari tepatnya (kalo kata teman saya, itu daerah terpencil -_-), sekitar 30 menit dari pusat kota Solo (kalo ini asli kira-kira aja, haha) tapi buat masuk ke desa-nya luar biasa sekali, bisa 45 menit sendiri, ckck. Daerahnya memang agak terpencil, di pinggir jalanan menuju desa itu dikelilingi hamparan kebun tebu (kebetulan lagi musim tanam jadi ya agak horor kalo lewat malam hari, hehe..) yang lumayan luas juga dan mungkin salah sentra penghasil tebu untuk daerah Karesidenan Surakarta.

Kebetulan saya beruntung memiliki kesempatan untuk kembali ke kota kelahiran saya dan ayah saya ini (Ya, saya lahir di sukoharjo, tapi berhubung akte diurus di Bekasi, jadi tempat lahir saya di Bekasi bukan Sukoharjo),

21 April 2013

Dan Itu Beda....

Hati dan logika itu tidak akan pernah menyatu, banyak orang yang mengatakannya.. Mungkin memang seperti itu takdirnya, atau mungkin tidak.. Segala kemungkinan itu ada, satu hal yang tidak memiliki unsur kemungkinan hanyalah masa lalu.. 

Suatu saat hatimu berkata "aku merindukannya", namun di waktu yang sama logikamu akan menjawab "mana mungkin dia merindukanku, dia sudah lupa padaku"..

Suatu saat hatimu berkata "aku mencintainya, sangat mencintainya", namun logikamu akan berbalik bertanya "sungguh kau mencintainya? bukankah dia sudah menyakitimu sesakit-sakitnya?"..

Hatimu mungkin merasakan kenyamanan kala di dekatnya, namun logikamu terus saja mengulang pertanyaan "apa benar nyaman ini hanya untukku? ataukah yang lain juga merasakannya?"..

Hatimu menangis kala dia telah bersama yang lain, hatimu masih mengharapkannya. Logikamu berusaha menyadarkan bahwa kau memang tidak pernah ada di hatinya, mungkin..

Betapa sesaknya hatimu kala dia berbalik menusukmu dari belakang, padahal sinyal logikamu sudah menduga dia akan melakukannya, sayang hatimu terlalu rapuh untuk kehilangan..

Betapa sedihnya hati kala kehilangan, padahal logika telah mencoba menyadarkannya sejak dulu kala pertanyaan "apa ini semua benar?" selalu menggaung di telinga..

Hati itu lemah untuk merasakan jatuh cinta, karena apa yang diteriakkan oleh sang logika hanyalah angin lalu bagi si hati..

Betapa sabarnya si hati kala dia selalu dipermainkan namun tidak ingin meninggalkan, padahal logika telah beraksi berteriak untuk melepaskannya..

Hati itu payah, sepayah kala kau tidak menyukai kehilangan dan melepaskan..

Logika itu kuat, kala hati payah logika mengambil alih, sayang selalu terburu-buru..

Logika selalu membuat putusan keliru, karena tidak pernah mengajak hati untuk berdiskusi apakah hatinya menerima hal itu..

Logika dengan segala keegoisannya selalu mengorbankan hati yang nantinya pasti merasa sakit karena putusan yang terburu-buru..

Logika dan itu beda dengan hati..

15 April 2013

Masa Depan vs Masa Lalu #LegKedua

Masa depan adalah sebagian masa lalu, meski secuil, kenangannya masih tersisa sebagai onggok..

Masa depan adalah tulisan pena masa lalu yang masih basah, masih dapat kau hapus apabila sama seperti tulisan sebelumnya..

Masa depan adalah jejak masa lalu, membelok saat menemukan genangan dan menghindar kala batu menghadang di depan, sehingga tidak basah dan tidak terantuk batu..

Masa depan itu adalah lukisan masa lalu, dengan warna baru, kertas baru, dan pelukis yang baru..

Masa depan itu adalah roda masa lalu, suatu saat terjerembab di tanah namun ada kalanya menikmati hembusan angin kala di atas..

Masa depan adalah masa lalu yang tersembunyi di balik lebatnya hutan ketidakpastian di depan mata..

3 April 2013

Secangkir Cokelat #5

Ada kalanya dimana secangkir kopi itu terlalu pahit, saat kita menyeruputnya dengan penuh kenangan masa lalu di benak dan itu bukan kenangan yang pantas untuk dikenang..

Di satu titik kau melaju dengan tatapan mantap ke depan horizon pandanganmu, namun di satu titik kau telah lupa bahwa ada kenangan yang membawamu untuk menatap itu..

Nanar menjadi lebih perih kala tahu kenangan hanyalah sesuatu pemanis kehidupan di masa mendatang, itupun saat kenangan baik yang muncul..

Mataku mendadak rabun jauh, kala muncul sekelabat kenangan masa lalu yang mampir di ekor mataku..

Aku dan kenangan, adalah paradoks, skenario semesta untuk menunjukkan ada masa depan menanti, dan mungkin itu lebih indah, tampaknya..