14 Februari 2013

Secangkir Cokelat #4

Patah hati itu rasanya baru nampak setelah kau tidak nampak di hadapanku namun saat kau kembali muncul menanyakan kabar hatiku..

Menunggu-mu melupakannya hanya membuatku patah hati, patah hati saat aku tahu dia beruntung memiliki dirimu..

Patah hati itu ibarat buah jeruk, sebersih apapun kau mencoba membersihkan serabutnya, namun pasti ada serabut yang tertinggal, seperti senyumanmu yang sulit hilang dari benakku..

Patah hati itu seperti disengat lebah, sakitnya di awal dan tak berbekas, namun selang jeda waktu sakitnya hilang dia memunculkan bengkak yang besar dan rasa sakitnya datang setiap saat..


Melihatmu dengan senyumanmu itu keindahan, namun saat senyuman itu untuknya itu mematahkan hatiku sepatah-patahnya..

Obat patah hati itu satu, senyumanmu yang indah dan hanya untukku bukan yang lain..

Patah hati itu tidak seperti matematika pada keliatannya, dia tidak bisa dihitung, tidak menggunakan rumus, dan tidak ada penyelesaian pastinya seperti apa..

Patah hati itu rumit, saat kau tidak mampu mengatakan "Aku masih disini menunggumu"

Hujan sekalipun bukan lah yang indah saat kau patah hati, karena kau pernah berhujanan bersama dengannya dan berjanji untuk menikmati hujan itu lagi suatu hari nanti, namun kemudian dia melupakanmu..

Hati akan kuat saat dia jatuh hati namun saat dia patah hati, dia akan rapuh dan ringkih..

Tidak ada yang salah dengan patah hati, yang salah adalah perasaan untuk mencoba kembali pada yang mematahkan harapan dalam hati itu..

Menyenangkan apabila patah hati terjadi sebelum kita jatuh hati dan kemudian dipatahkan olehnya..

Dua hal yang tidak akan hilang setelah seseorang patah hati adalah kesenangan saat bersama dan saat hati itu dipatahkan..


*diiringi lagu pupus dari dewa 19 dan sewindu dari tulus, ayunan jari ini mengisi draf kosong postingan ini... hemm..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar