27 Oktober 2015

Perkara Rindu

Mari membuka laman ini dengan sedikit bergemeretak,
Tidak, kita tidak sedang kedinginan karena berada dalam ruangan berpendingin udara.
Tidak, kita tidak pula sedang meringkuk ketakutan karena ada hentakan kerasa dari inti bumi.

Kita bergemeretak, karena kita hanya sedang merindu.


Rindu...
Kata sakti bagi para pelaku hubungan jarak jauh,
Juga kata ampuh bagi para penyendiri yang sulit menyapa keberadaan seseorang,
Mungkin juga kata larangan bagi mereka yang berusaha membuka lembaran baru di esok hari.
Entah bagaimanapun maknanya, rindu tidak pernah sederhana.

Iya, rindu itu tidak sederhana jikalau tidak diungkapkan.
Menjadi sederhana saat rindu menemui targetnya, entah terungkap atau tidak itu urusan lain.
Yang jelas, merindu perkara yang susah nan gampang, tergantung dengan siapa merindu itu dituju.

Bagaimana jikalau rindu itu dilarang ? Apa baik melarang rindu ?
Bagaimana jikalau rindu itu dipendam ? Apa baik memendam rindu ?
Bagaimana jikalau rindu itu sesaat ? Apa baik merindu hanya sesaat ?
Bagaimana jikalau rindu itu berkepanjangan ? Apakah baik rindu yang terus-menerus ?

Aku tidak akan merindukanmu tanpa sebab-alasan.
Aku tidak akan merindukanmu dengan percuma.
Aku tidak akan merindukanmu dengan sepenuh jiwa raga.

Karena aku tahu, rindu itu berat, seperti kata Ayah Pidibaiq.
Biar aku saja yang merindu, kamu jangan.
Tapi jikalau kamu merindu, izinkan aku mengetahuinya

21 Maret 2015

Surat Untukmu Kawan

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh...

Apa kabarmu kawan nun jauh di sana ?
Besar harapanku kau bisa membaca surat sederhana ini. Maaf sebelumnya jika surat ini hanya beredar di dunia maya karena aku kesulitan ke alamat mana aku harus mengirimkan surat ini kepadamu kawan. Tapi ya semoga kau diberikan kesempatan untuk membaca surat ini.

Sudah lama sekali kita tidak berjumpa, kalo tidak salah terakhir kita bertemu dan berbincang seru ya saat aku menjemputmu sepulangnya kau dari kota lain yang kau singgahi selain kota ini. Jujur, aku ingin membalas traktiran makan siang darimu tempo hari saat aku kita punya waktu luang untuk duduk bersama di satu meja. Tapi apa daya sekarang kita sudah tidak dalam satu kota, tak apa, semoga suatu saat aku diberikan kesempatan oleh Allah Ta'ala untuk membalas traktiran makan di warung makan 'legendaris' di kota ini.

Kau tau aku tidak menyukai kota ini. Sangat tidak menyukai. Bahkan sempat terlontar kalimat dariku kalo aku ingin segera lulus dan meninggalkan kota ini lebih cepat. Kau berkilah dengan menyatakan kalimat yang masih aku ingat hingga saat ini, 'Suatu saat kau akan suka dan cinta dengan kota ini, jangan membencinya berlebihan..' dan aku hanya menanggapi dengan tawaan terbahak-bahak sambil menolak mentah-mentah pendapatmu. Oiya, aku ingin mengucapkan terima kasih lagi untuk titipan dua toples astor rasa cocopandan (jujur, aku tak suka rasa itu, tapi tetap kuhabiskan karena aku suka astor, hehee)

Lama kita tak bertemu, pernah ada janji kalo aku harus selalu mengantar-jemputkan kamu selama kuliah di kota ini karena letak kosanmu yang cukup jauh untuk ke kampus, tapi itu tidak pernah terjadi karena suatu hari aku melihatmu sudah memiliki kendaraan pribadi untuk ditunggangi tiap hari ke kampus kesayanganmu, Kampus Farmasi. Setidaknya, terkahir kali aku melihatmu di pertigaan sekitar kampus dan mencoba menyapamu namun kamu tak mengindahkan, mungkin kamu tak mendengar sapaanku, tak apa, mungkin kamu sedang sibuk hehe..

5 September 2014

Maaf, Ma...

Saya akan membuka tulisan dengan satu kata yang selalu ingin saya katakan pada banyak orang spesial dalam hidup saya.

"Maaf..."

Saya ingin minta maaf untuk semua orang spesial yang berarti bagi perjalanan hidup saya hingga sejauh ini. Tampaknya terlihat mudah dan sepele untuk mengucapkan hal tersebut langsung pada mereka yang dituju. Namun, menjadi perkara yang sangat besar saat semua berasal dari hati, yang mana kadang mulut sulit untuk melafalkannya langsung di depan mereka.

Maaf, saya sudah mengecewakan semua orang yang rela mendukung saya di masa sulit saya namun saya terlihat menyepelekan atau mengacuhkannya. Saya hanya mencoba mengesampingkan dukungan itu sebagai bentuk pemacu semangat saya kala jatuh, namun itu belum bisa membuat saya berlari seperti saat sebelum saya terjatuh.

Maaf terbesar saya bagi sosok yang selalu ada dalam doa saya meskipun saya tidak pernah bisa mengucapkan langsung kepadanya bagaimana saya menyayanginya sepenuh hati saya. Sosok yang begitu tegar dengan segala cobaan yang hampir tidak pernah berhenti menimpanya. Mungkin tidak sehebat cerita-cerita yang ada di film, novel, ataupun karya sastra para pujangga lain, tapi bagi saya sosok itu selalu dan tidak akan pernah terhapus dalam hati dan benak saya. Bukan sosok yang mengesankan bagi kebanyakan orang, tapi setidaknya dia begitu berharga dan berandil sangat sangat luar biasa besar bagi jalan hidup saya. Betapa berdosanya saat saya menyadari saya pernah menjadi penyebab bagimana air matanya jatuh dari matanya yang bertatapan tajam lalu membasahi pipi gembilnya yang mulai mengerut di makan usia. Ah, saya berkaca-kaca menulis barisan kalimat ini...

Saya tidak ada di sampingnya saat sosok itu sangat butuh seseorang disampingnya, sekedar untuk melepaskan sedikit bebannya lewat bercerita. Menyapa lewat hubungan seluler hanya menimbulkan perasaan bersalah yang makin mendalam kala semua obrolan dibatasi oleh 'kuota bicara' yang terbatas. Tapi untuk bertemu dengan sosok itu saat inipun bukan hal yang mudah, terlalu banyak hal bodoh yang sudah dilakukan akibat ego beranjak dewasa yang menumpuk dan tidak coba untuk dihilangkan. Bertemu dengan sosok itu hari ini hanya akan membuat saya malu dan sadar jikalau saya masih belum memberikan apa-apa untuk seluruh pengorbanan di semua detik umur saya bernafas hingga saat ini. Mata saya seketika memburam dan berkedip tanpa saya sadari...

Mama, tidak ada kata yang pantas diucapkan oleh saya selain "Maaf, Ma.."
Maaf saya lemah karena tidak bisa mengucapkan ini secara langsung di depanmu sekalian memeluk tubuhmu yang mulai merenta.
Maaf untuk semua ego saya yang sering engkau acuhkan sebagai bebanmu tapi malah dianggap sebagai kewajibanmu sebagai orang tua saya.
Maaf saya belum berjuang sekeras apa yang telah kau lakukan untuk mendermakan hampir seluruh yang kau miliki untuk saya.
Maaf karena saya belum bisa membawamu ke kota ini lagi dan melihat senyumanmu saat melihatku mengenakan baju toga kebesaran mereka yang telah berjuang mengalahkan egonya untuk menaklukkan belantara tugas akhir.

Seketika tangan saya refleks menghapus air mata yang mulai menjalar pipi.




Untuk mama,

Maafin aku, Ma.. :'(

1 Juli 2014

Mereka yang Ada Di Belakangmu

Mereka yang selalu ada di belakangmu adalah mereka yang tulus mendo'akanmu semua yang terbaik kala kau tertidur pulas menjemput mimpi. Tidak akan terdengar namun ketulusannya nyata di hadapanmu tanpa kau sadari..

Mereka sanggup meneteskan semua peluhnya dan habiskan semua waktunya demi senyummu di kala bahagia. Tak banyak pintanya, mereka hanya ingin pelukan hangat darimu untuk membalas semua peluh mereka.

Mereka ikhlas berjuang mengejar matahari pagi dan ditemani bulan malam untuk memastikan supaya kau tidak kekurangan di esok hari. Tak banyak pintanya, mereka hanya ingin kau mencium tangan mereka kala kau pergi ke lain tempat.

Mereka rela menanggalkan selimutnya atau mengibaskan tangannya memberikanmu sedikit kesejukan hanya agar tidurmu tak terganggu dingin atau sumuknya udara. Tak banyak pintanya,

10 Juni 2014

Pada Akhirnya...

Pada akhirnya, kita hanya bisa menemui bayangan diri kita saja dari lontaran cermin yang terkena terang cahaya, tidak ada siapa-siapa, meskipun tampak ramai. Mungkin karena suasana gundah yang mulai menyesaki sedikit ruang yang tersisa di dalam hati..

Pada akhirnya, semua akan berakhir pada penyesalan yang dimulai dengan segala macam hal sepele yang cenderung mengacuhkan, begitulah cara kerja munculnya penyesalan. Kau menyia-nyiakan lalu sepi melanda dan saat itu terjadi kau menyesal mengapa bisa menyia-nyiakan hal yang pernah ada..

Pada akhirnya, kita akan menemui semua ujung rindu kita pada kenangan yang selintas ada dalam benak hanya untuk mengusik semua hal tersia-siakan lalu disesali kemudian. Jangan salahkan rindunya, salahkan cara munculnya yang mengungkit masa lalu yang lupa untuk disyukuri..

Pada akhirnya, kita memilih untuk menyerah pada keadaan, tidak tahu harus bagaimana menjadi alasan terkuat. Ingin melangkah namun tidak mempunyai pijakan yang kuat, alhasil takut melangkah dan mulai berpikir untuk diam berdiri di posisi saat ini atau putar balik ke arah sebelumnya..